Bercanda Mengeraskan Hati???.
Saudariku muslimah, berbeda
dengan sabar yang tidak ada batasnya, maka bercanda ada batasnya. Tidak bisa
dipungkiri, di saat-saat tertentu kita memang membutuhkan suasana rileks dan
santai untuk mengendorkan urat syaraf, menghilangkan rasa pegal dan capek
sehabis bekerja. Diharapkan setelah itu badan kembali segar, mental stabil,
semangat bekerja tumbuh kembali, sehingga produktifitas semakin meningkat. Hal
ini tidak dilarang selama tidak berlebihan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun Bercanda
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sering
mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil
hati serta membuat mereka gembira. Namun canda beliau tidak berlebihan, tetap
ada batasnya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya
tersenyum. Begitu pula dalam bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.
Sebagaimana yang diriwayatkan dalam beberapa hadits yang menceritakan seputar
bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seperti
hadits dari ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha, “Aku belum pernah melihat
Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga
kelihatan amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.”(HR. Bukhari dan
Muslim)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan,
para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai,
Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul,
hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya
Shahih)
Adapun contoh bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah ketika beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda
dengan salah satu dari kedua cucunya yaitu Al-Hasan bin Ali radhiyallahu
‘anhu. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan
Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia
segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah
Ahadits Shahihah, no hadits 70)
Adab Bercanda Sesuai Syariat
Poin di atas cukup mewakili
arti bercanda yang dibolehkan dalam syariat. Selain itu, hal penting yang harus
kita perhatikan dalam bercanda adalah:
1. Meluruskan tujuan yaitu
bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan
suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh semangat
baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.
2. Jangan melewati batas.
Sebagian orang sering berlebihan dalam bercanda hingga melanggar norma-norma.
Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseorang.
3. Jangan bercanda dengan
orang yang tidak suka bercanda. Terkadang ada orang yang bercanda dengan
seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang
tersebut. Hal itu akan menimbulkan akibat buruk. Oleh karena itu, lihatlah
dengan siapa kita hendak bercanda.
4. Jangan bercanda dalam
perkara-perkara yang serius. Seperti dalam majelis penguasa, majelis ilmu,
majelis hakim (pengadilan-ed), ketika memberikan persaksian dan lain
sebagainya.
5. Hindari perkara yang
dilarang Allah Azza Wa Jalla saat bercanda.
- Menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda. Rasullullah shallallahu’alaihi
wa sallambersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengambil
barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.” (HR.
Abu Dawud dan Tirmidzi)
Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam juga
bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim
yang lain.” (HR. Abu Dawud)
- Berdusta saat bercanda. Rasullullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian
tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang
benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta
meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang
memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).
Rasullullah pun telah memberi
ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan
sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Celakalah
seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia,
celakalah ia.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
- Melecehkan sekelompok
orang tertentu. Misalnya bercanda dengan melecehkan penduduk daerah tertentu,
atau profesi tertentu, bahasa tertentu dan lain sebagainya, yang perbuatan ini
sangat dilarang.
- Canda yang berisi tuduhan
dan fitnah terhadap orang lain. Sebagian orang bercanda dengan temannya lalu
mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya dengan perbuatan yang keji untuk
membuat orang lain tertawa.
6. Hindari bercanda dengan aksi atau kata-kata yang buruk. Allah
telah berfirman, yang artinya, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku,
hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya
setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah
musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Isra’: 53)
7. Tidak banyak tertawa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, “Janganlah
kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR.
Ibnu Majah)
8. Bercanda dengan
orang-orang yang membutuhkannya.
9. Jangan melecehkan syiar-syiar agama dalam bercanda. Umpamanya
celotehan dan guyonan para pelawak yang mempermainkan simbol-simbol agama,
ayat-ayat Al-Qur’an dan syair-syiarnya, wal iyadzubillah! Sungguh
perbuatan itu bisa menjatuhkan pelakunya dalam kemunafikan dan kekufuran.
Demikianlah mengenai batasan-batasan dalam bercanda yang
diperbolehkan dalam syariat. Semoga setiap kata, perbuatan, tingkah laku dan
akhlak kita mendapatkan ridlo dari Allah, pun dalam masalah bercanda. Kita
senantiasa memohon taufik dari Allah agar termasuk ke dalam golongan
orang-orang yang wajahnya tidak dipalingkan saat di kubur nanti karena
mengikuti sunnah Nabi-Nya. Wallahul musta’an.
***
Diringkas dari: majalah As-Sunnah edisi 09/tahun
XI/ 1428 H/2007 M.
Artikel www.muslimah.or.id
Artikel www.muslimah.or.id